Perbedaan Dasar Pelemahan Rupiah 2020 Dan Krisis Moneter 1998

Perbedaan Dasar Pelemahan Rupiah 2020 Dan Krisis Moneter 1998

Krisis Moneter 1998 – Sudah Banyak pengamat ekonomi serta beberapa pakar yang mendalami tentang ekonomi bertanya Tanya dan coba menyimpulkan alasan yang tepat untuk Topik yang akan kami bahas diatas. Namun kebanyakkan dari mereka pasti akan salah memberikan penafsiran dan pendapat yang benar untuk hal tersebut. Berikut beberapa rangkuman dan penjelasan dari kami tentang perbedaan dasar pelemahan rupiah ini.

Keadaan Ekonomi Pada Krisis Moneter 1998

Perbedaan Dasar Pelemahan Rupiah 2020 Dan Krisis Moneter 1998

Perlu Adan ketahui semuanya bahwa memang pada tahun 1997-1998 mengalami krisis finansial atau moneter di Asia, termasuk Indonesia. Hal tersebut dikarenakan inflasi rupiah serta peningkatan besaran untuk harga bahan makanan di Indonesia. Dengan puncaknya pada February 1998, Presiden Soeharto melakukan pemecatan terhadap Gubernur Indonesia. Selanjutnya Presiden Soeharto pun dipaksa mundur oleh ribuan mahasiswa yang melakukan demo besar besaran di gedung DPR/MPR pada saat itu.

Berita Lainya : Happy Hypoxia Syndrome, Komplikasi Penderita Covid 19

Awal mula dari krisis financial tahun 1998 in ketika negara Thailand pada tahun 1997 mencoba memutuskan untuk menghapus kebijakan nilai tukar mata uang tetap dan membiarkan mata uang Thailand sendiri untuk diperdagangkan di pasar mata uang.

Keadaan Ekonomi Pada Tahun 1998

Hal inilah yang menimbulkan bath mengalami devaluasi yang memberikan dampak yang sangat besar di kawasan Asia, khususnya Indonesia yang juga tergabung dalam pusaran krisis financial 1998 tersebut. Pada krisis moneter tahun 1998 nilai tukar rupiah mengalami pelemahan dari Rp 2,500/US$ menjadi Rp 16,000/US$. Keadaan rupiah pada saat itu adalah berada pada level Rp 2,500/US$.

Kondisi Ekonomi Tahun 2020

Setelah kita membahas dampak ekonomi tahun 1998 yang mengalami pelemahan sebesar delapan kali lipat ini. Sekarang saatnya kita mencoba keadaan ekonomi pada saat ini, sesuai penjelasan dari Gubernur BI untuk pelemahan pada tahun ini masih terbilang kecil dibanding tahun 1998. Pelemahan rupiah pada tahun ini hanya sekitar 12% dari yang sebelumnya, sekitar Rp 13,800/US$ menjadi Rp 16,000/US$ untuk update per tanggal 26 maret 2020 yang lalu.

Gubernur BI

Gubernur BI juga memastikan nilai tukar rupiah saat ini sudah kembali menguat ke arah 15,500 dan akan mencoba menguat lagi. Hal tersebut tentunya tidak akan menggangu tingkat inflasi nasional seperti kondisi krisis moneter tahun 1998 tersebut. Hal tersebut tentunya masih bisa berubah sampai saat sekarang ini. Ada beberapa hal yang dinilai bahwa inflasi tersebut tidak akan meningkat diantaranya:

  1. Pasokan Uang Diklaim mencukupi
  2. Arus Penawaran (supply) disbanding dengan permintaan (demand) tetap terjaga
  3. Pemantauan oleh tim pengendali inflasi pusat serta daerah yang terus berlangsung
  4. Pelemahan Rupiah hanya bersifat sementara akibat kepanikan investor pada saat ini. Tidak ada kenaikan harga dikarenakan pemerintah menjamin pasokan dan sudah dicegah sampai saat Ramadan.

Sekian dulu informasi yang kami sampaikan perihal perbedaan dasar pelemahan rupiah tahun 2020 dibanding krisis ekonomi tahun 1998 yang lalu ini. Terima kasih bagi Anda yang sudah mampir dan membaca artikel kami ini.