Happy Hypoxia Syndrome, Komplikasi Penderita Covid 19

Happy Hypoxia Syndrome, Komplikasi Penderita Covid 19

Belum selesai rangkaian masalah datang bertubi-tubi, kini warga Indonesia ketakutan menemukan jenis penyakit baru bernama Happy Hypoxia Syndrome. Sindrom penyakit ini juga masih ada hubungan erat berkaitan dengan komplikasi pada penderita Covid 19, khususnya orang tanpa gejala. Kasus OTG mendapat perhatian khusus di kalangan para pasukan garda terdepan pemberantas wabah Covid.

Terlaporkan ada sejumlah kejadian memperlihatkan bahwasannya penderita positif Covid berpotensi terkena sindrom happy hypoxia. Penyakit ini menyebabkan masalah serius, pasalnya kadar oksigen dalam aliran darah bisa turun secara mendadak di bawah level aman. Bila asupan oksigen ke beberapa organ penting dalam tubuh berkurang seperti jantung atau otak, bisa saja menyebabkan stroke hingga kematian.

Sialnya, kelompok pasien penderita Covid yang termasuk golongan OTG seringkali hanya mendapat himbauan isolasi mandiri di rumah. Hampir tidak ada campur tangan satuan tim medis dalam perawatannya, kecuali sebatas pantauan dari jarak jauh belaka dengan juga ada berita tentang 300 juta vaksin yang akan datang awal tahun 2021. Kita akan berkenalan dengan narasumber yang menjabat sebagai perwakilan humas khusus satgas Covid dari RS UNS, Surakarta, Jawa Tengah.

Happy Hypoxia Syndrome, Komplikasi Penderita Covid 19

Beliau adalah Tonang Dwi Ardyanto, saat ini juga berperan sebagai ahli patologi klinis di rumah sakit daerah tersebut. Tonang mengaku kesulitan menghadapi sindrom baru happy hypoxia ini, sehingga harus bergumul mencari solusi sesegera mungkin sebelum terlambat. Beberapa kali ia sampai harus lembur dan kerja ekstra siang malam untuk mengejar ketertinggalan melawan Covid.

Saat sesi wawancara, Tonang Dwi berujar bahwa pengidap happy hypoxia syndrome umumnya terlihat baik-baik saja dari penampilan luar. Padahal, jauh bersemayam dalam tubuhnya, ada bahaya mengintai bak malaikat pencabut nyawa yang siap memangsa kapan saja. Raut wajah dan gerak geriknya pun tidak terlihat seperti orang yang menderita kurangnya kadar oksigen.

Melainkan, lebih kepada layaknya orang sehat walafiat sehingga penyakit ini disebut ‘happy’ alias bahagia. Mulai sekarang, Tonang menyarankan kepada setiap pemilik status OTG untuk berjaga-jaga terhadap serangan sindrom happy hypoxia. Bagaimanapun juga, mustahil pekerja kesehatan dapat memantau mereka senantiasa selama 24 jam nonstop setiap harinya.

 

Penanggulangan Mencegah Serangan Awal Happy Hypoxia

Penanggulangan Mencegah Serangan Awal Happy Hypoxia

Lantas, bagaimanakah penanggulangan sementara demi mencegah serangan awal happy hypoxia? Tonang melanjutkan, tindakan antisipasi dapat kita laksanakan sebagai langkah pertolongan pertama pada kejadian. Cara pertama, yaitu cobalah anda menarik nafas sedalam mungkin sekitar 2 hingga 3 pengulangan banyaknya. Jika terindikasi tenggorokan gatal sehingga merangsang terjadinya batuk, segera laporkan kondisi anda ke tim medis setempat.

Pihak terkait akan mencatat peristiwa tersebut dalam laporan hariannya sehingga bisa tersampaikan infonya ke dokter spesialis paru. Supaya lebih terjamin, belilah alat kesehatan bernama Pulse Oxymetri yang berguna menghitung kadar oksigen tersaturasi dalam darah. Cara penggunaannya dengan cara menembakannya pada ujung jari jemari. Ulangi perawatan ini beberapa kali, yaitu kira-kira 3 sampai 4 kali sehari.

Penanggulangan Mencegah Serangan Awal

Belum selesai sampai di situ, pasien OTG beserta segenap keluarga yang tinggal serumah dengannya harus berhati-hati terhadap keadaan darurat. Kriteria suatu kondisi dianggap sebagai masalah darurat adalah ketika tarikan nafas semakin pendek dan menggebu-gebu. Lalu entah mengapa, tenaga kita seperti terkuras habis dengan cepat ibarat kebocoran baterai pada smartphone.

Baru beraktifitas ringan sedikit saja, badan langsung loyo dan terasa terlalu cepat letih. Rasa keletihan pada tubuh pun cukup ekstrim, sampai lemas pada sekujur badan. Kemudian, anda merasakan tekanan berat menghimpit area dada ketika melakukan proses pernafasan. Apabila semua kriteria tersebut anda alami, jangan menunda waktu dan segeralah menghubungi rumah sakit setempat.

Penanggulangan Mencegah Serangan Awal

Nara sumber berikutnya adalah Agus Dwi Susanto, menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia atau PDPI. Beliau menyatakan bahwa happy hypoxia syndrome awalnya merupakan radang paru-paru yang berkembang menjadi pneumonia. Dampaknya, siklus asupan oksigen dalam darah menuju ke paru kita menjadi terhambat.

Lanjutannya, semua organ penting dalam badan kita juga menyusul mengalami kurangnya kadar oksigen mengikuti jejak paru. Dari situlah cikal bakal terjadinya suatu kondisi bernama hypoxia. Fenomena happy hypoxia itu sendiri masih menjadi perdebatan hangat seputar topik kesehatan. Sekumpulan ilmuwan tingkat mancanegara pun saat ini masih berjuang menemukan langkah terbaik dalam menanggulangi sindrom ini.